Sebelum berangkat umrah, ada satu hal kecil yang sering baru dipikirkan ketika sudah sampai bandara: pakai roaming dari nomor Indonesia atau beli SIM Card Arab Saudi?
Sekilas keduanya terlihat sama. Yang penting smartphone bisa internetan, WhatsApp tetap aktif, dan keluarga di Indonesia masih bisa dihubungi. Tetapi kalau dihitung dari harga, masa aktif, kebutuhan kuota, sampai kenyamanan penggunaannya, pilihannya bisa cukup berbeda.
Apalagi kalau perjalanan umrah berlangsung sekitar 9 sampai 12 hari. Membayar paket internet yang terlalu besar tentu sayang, tetapi mengambil paket yang terlalu kecil juga bisa merepotkan ketika sedang membutuhkan Maps, WhatsApp, video call, atau informasi perjalanan.
Jadi, sebelum membeli paket, lebih baik hitung dulu kebutuhanmu.
Roaming atau SIM Card Arab Saudi, Mana yang Perlu Dipilih?
Secara sederhana, roaming lebih praktis karena kamu tetap menggunakan nomor Indonesia. Sementara SIM Card Arab Saudi biasanya lebih menarik dari sisi pilihan kuota dan harga, terutama jika membutuhkan internet cukup banyak selama berada di Tanah Suci.
Roaming cocok untuk jamaah yang tidak ingin repot mengganti kartu. Nomor utama tetap berada di smartphone, sehingga tidak perlu mengurus kartu baru begitu tiba di Arab Saudi.
Sebaliknya, SIM lokal lebih menarik bagi pengguna yang memang membutuhkan koneksi data cukup aktif dan tidak keberatan menggunakan nomor lokal selama perjalanan.
Berapa Harga SIM Card Arab Saudi untuk Umrah?
Operator Saudi menyediakan paket khusus pengunjung, termasuk untuk jamaah umrah. Salah satu contohnya adalah Sawa Visitor dari stc.
Pada halaman resminya, stc saat ini mencantumkan beberapa pilihan paket visitor. Paket 5 GB dengan masa aktif 2 minggu tercantum seharga 31 SAR pada halaman berbahasa Inggrisnya. Ada juga pilihan 20 GB seharga 55 SAR dengan masa aktif 2 minggu, 32 GB seharga 75 SAR untuk 3 minggu, dan 50 GB seharga 100 SAR untuk 4 minggu. Harga dan detail paket dapat berubah, jadi sebaiknya cek kembali sebelum membeli.
Selain stc, Mobily juga menyediakan paket khusus pengunjung. Paket Visitor 30 misalnya tercantum 5 GB dengan masa aktif 14 hari dan harga 34,5 SAR. Pilihan berikutnya mencakup 20 GB seharga 57,50 SAR untuk 14 hari, sedangkan paket yang lebih besar tersedia untuk masa aktif 21 hingga 30 hari.
Artinya, jamaah tidak harus langsung mengambil paket puluhan GB. Untuk perjalanan sekitar 9 hari dengan pemakaian normal, paket 5 GB saja sudah bisa menjadi titik awal yang masuk akal.
Bagaimana dengan Roaming dari Indonesia?
Roaming punya keunggulan utama: praktis.
Kamu tidak perlu mencari kartu lokal, tidak perlu memindahkan SIM, dan nomor Indonesia tetap digunakan seperti biasa. Ini bisa terasa sangat nyaman bagi jamaah yang tidak ingin mengubah pengaturan smartphone sebelum atau sesudah perjalanan.
Namun, harga roaming sangat tergantung operator Indonesia, paket yang dipilih, masa aktif, serta jumlah data yang diberikan. Karena itu, jangan hanya melihat tulisan “roaming tersedia”. Lihat berapa GB yang sebenarnya didapat dan berapa hari masa aktifnya.
Sebagai gambaran, stc sendiri memiliki paket roaming internasional yang berbeda dari paket SIM visitor lokal. Salah satu paketnya menawarkan 20 GB plus tambahan 5 GB gratis untuk masa berlaku 10 hari dengan harga 287,50 SAR. Ada juga paket roaming dengan masa berlaku dan kuota berbeda.
Ini menunjukkan satu hal penting: roaming dan SIM lokal memang tidak bisa dibandingkan hanya berdasarkan nama paket. Kamu perlu membandingkan harga, kuota, masa aktif, dan fasilitas yang benar-benar dibutuhkan.
Untuk Umrah 9 Hari, Berapa GB yang Masuk Akal?
Kalau perjalanan berlangsung 9 hari, kebutuhan internet sebenarnya tidak harus besar.
Untuk WhatsApp, Google Maps, browsing ringan, mengecek informasi perjalanan, menerima pesan dari grup rombongan, dan sesekali mengirim foto, 3–5 GB bisa menjadi kisaran yang cukup realistis.
Kalau kamu sering video call dengan keluarga, membuka Instagram atau TikTok, mengunggah banyak video, dan menggunakan internet hampir sepanjang hari, kebutuhan bisa naik menjadi 7–10 GB atau lebih.
Karena itu, jangan otomatis menganggap paket 20 atau 30 GB pasti lebih baik. Jika sebagian besar waktu digunakan untuk ibadah dan aktivitas perjalanan, kuota sebesar itu belum tentu habis.
Kalau ingin melihat gambaran perjalanan dengan durasi 9 hari, kamu juga bisa membandingkannya dengan paket umrah reguler 9 hari. Dari sana, kebutuhan internet bisa disesuaikan dengan durasi dan aktivitas selama perjalanan.
Jangan Lupa Menghitung Kurs Riyal
Harga paket dalam SAR memang terlihat kecil kalau hanya melihat angkanya. Tetapi sebelum memutuskan, ubah dulu ke rupiah menggunakan kurs saat itu supaya perbandingannya lebih jelas.
Misalnya paket internet seharga 55 SAR terlihat berbeda ketika dikonversi ke rupiah dibanding paket roaming Indonesia yang harganya sudah langsung tercantum dalam rupiah.
Selain biaya internet, jamaah juga biasanya perlu menyiapkan uang untuk berbagai kebutuhan kecil selama berada di Arab Saudi. Karena itu, pembahasan mengenai anggaran umrah dan fasilitas yang didapat juga bisa menjadi pertimbangan agar biaya perjalanan tidak dihitung hanya dari harga paket utama.
Kapan Roaming Lebih Masuk Akal?
Roaming cenderung lebih praktis untuk jamaah yang ingin semuanya sederhana.
Misalnya kamu hanya ingin tiba di Arab Saudi, menyalakan paket roaming, lalu langsung menggunakan WhatsApp dan internet tanpa perlu mencari gerai operator. Pilihan ini juga menarik jika nomor Indonesia sangat penting untuk menerima SMS, OTP, atau komunikasi yang masih berkaitan dengan layanan di Indonesia.
Dalam situasi seperti ini, selisih harga tertentu bisa dianggap sebagai biaya untuk mendapatkan kemudahan.
Kapan SIM Card Arab Saudi Lebih Menarik?
SIM lokal lebih masuk akal ketika kebutuhan internet cukup tinggi atau kamu ingin menggunakan paket visitor dengan kuota besar.
Selain stc dan Mobily, operator Saudi seperti Zain juga memiliki paket khusus visitor dengan masa aktif hingga 28 hari dan pilihan kuota puluhan GB. Beberapa paketnya bahkan mencantumkan menit komunikasi internasional yang mencakup Indonesia.
Untuk jamaah yang tinggal lebih lama atau memang aktif menggunakan data, pilihan seperti ini bisa memberikan fleksibilitas lebih besar.
Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan: Nomor Utama
Kalau memilih SIM lokal, jangan asal melepas kartu Indonesia lalu menyimpannya tanpa persiapan.
Pastikan kamu sudah memahami kebutuhan nomor utama untuk menerima OTP, mengakses mobile banking, atau layanan lain yang menggunakan nomor Indonesia. Jika smartphone mendukung dual SIM atau eSIM, situasinya bisa jauh lebih praktis karena nomor Indonesia tetap tersedia sementara koneksi data menggunakan SIM lokal.
Ini salah satu alasan kenapa keputusan antara roaming dan SIM lokal sebenarnya bukan cuma soal harga.
Jadi, Roaming atau SIM Card Arab Saudi?
Kalau ingin praktis dan tetap menggunakan nomor Indonesia, roaming bisa menjadi pilihan yang nyaman.
Kalau ingin lebih leluasa memilih kuota dan menggunakan internet secara aktif, SIM Card Arab Saudi layak dipertimbangkan. Paket visitor dari operator lokal menunjukkan bahwa tersedia pilihan mulai dari sekitar 5 GB dengan masa aktif 14 hari, hingga puluhan GB untuk perjalanan yang lebih panjang.
Untuk jamaah yang umrahnya sekitar 9 hari dengan penggunaan internet normal, tidak perlu mengejar kuota terlalu besar. 5 GB bisa menjadi titik awal yang masuk akal. Naik ke 10 GB atau lebih jika kamu sering video call, media sosial, atau mengunggah konten.
Pada akhirnya, pilihan terbaik bukan sekadar paket yang paling murah atau kuota yang paling besar. Yang lebih penting adalah berapa lama kamu berada di Arab Saudi, berapa banyak internet yang benar-benar digunakan, apakah nomor Indonesia harus tetap aktif, dan seberapa penting kemudahan selama perjalanan.
Dengan menghitungnya sebelum berangkat, kamu bisa menghindari dua hal sekaligus: membayar kuota yang tidak terpakai atau kehabisan internet ketika justru sedang membutuhkannya.

Komentar di Roaming atau SIM Card Arab Saudi untuk Umrah? Hitung Biayanya Sebelum Berangkat (0 Komentar)
Posting Komentar