Sampai di Tanah Suci setelah perjalanan panjang tentu menjadi momen yang sangat berkesan. Melihat Ka'bah secara langsung, berada di Masjid Nabawi, atau mendapatkan kesempatan berkunjung ke Raudhah adalah pengalaman yang ingin dikenang.
Karena itu, kalau ada jamaah yang ingin update status WhatsApp, upload Instagram Stories, atau membagikan foto di depan Ka'bah maupun Raudhah, sebenarnya apakah boleh?
Jawabannya tidak sesederhana “boleh” atau “tidak boleh”. Ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan, yaitu niat, adab, kondisi sekitar, dan cara kita menggunakan media sosial.
Update Status Saat Umrah, Memangnya Gapapa?
Membagikan pengalaman pribadi di media sosial pada dasarnya merupakan bagian dari kebiasaan banyak orang saat bepergian.
Ketika seseorang melihat Ka'bah untuk pertama kalinya, misalnya, sangat wajar jika muncul keinginan untuk mengabadikan momen tersebut. Begitu juga ketika mendapatkan kesempatan berada di Raudhah.
Foto atau video kemudian bisa dibagikan kepada keluarga dan teman sebagai bentuk cerita perjalanan. Bahkan, bagi sebagian orang, unggahan tersebut menjadi cara untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di Tanah Suci.
Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang update status atau tidak. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana aktivitas tersebut dilakukan.
Jangan Sampai Sibuk Membuat Konten Sampai Lupa Momen Ibadah
Ini bagian yang menurut saya paling penting.
Ketika berada di depan Ka'bah, perhatian kita bisa saja teralihkan karena ingin mendapatkan foto yang bagus. Mengatur kamera, mencari angle, membuat video, memilih caption, kemudian mengecek siapa saja yang sudah melihat Stories.
Tanpa terasa, momen yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beribadah justru berubah menjadi sesi membuat konten.
Kalau ingin mengambil foto atau video, cukup seperlunya. Setelah mendapatkan dokumentasi yang dibutuhkan, kembali fokus pada ibadah dan suasana di Tanah Suci.
Jangan sampai kamera lebih lama menghadap kita daripada perhatian kita menghadap kepada Allah.
Kalau Mau Foto di Depan Ka'bah, Perhatikan Situasi Sekitar
Area sekitar Ka'bah merupakan tempat yang sangat ramai. Jamaah datang dari berbagai negara dengan tujuan utama beribadah.
Karena itu, jangan memaksakan diri mencari posisi tertentu hanya demi mendapatkan foto yang dianggap sempurna.
Kalau harus menghalangi jalan jamaah lain, berhenti terlalu lama di jalur orang berjalan, atau membuat orang lain terganggu, sebaiknya urungkan terlebih dahulu.
Foto yang bagus masih bisa dibuat di kesempatan lain. Kenyamanan dan kekhusyukan jamaah lain jauh lebih penting untuk diperhatikan.
Bagaimana dengan Upload Stories dari Raudhah?
Raudhah memiliki kondisi yang berbeda karena akses dan waktu kunjungan jamaah dapat diatur berdasarkan ketentuan yang berlaku pada saat itu.
Jamaah sebaiknya mengikuti arahan petugas dan aturan yang berlaku ketika berada di area tersebut. Jangan menjadikan kesempatan berada di Raudhah sebagai alasan untuk sibuk merekam terlalu lama.
Jika kondisi memungkinkan untuk mengambil dokumentasi secara singkat dan tidak melanggar aturan, kamu bisa mengabadikan momen tersebut. Tetapi ketika petugas meminta jamaah bergerak atau mengikuti alur tertentu, ikuti arahan tersebut.
Jangan sampai mengejar satu Stories membuat kita mengabaikan aturan yang sudah dibuat untuk mengatur banyaknya jamaah.
Yang Perlu Dijaga Bukan Cuma Kamera, Tapi Juga Privasi Jamaah Lain
Satu hal yang sering terlupakan ketika membuat konten di tempat ramai adalah keberadaan orang lain di dalam frame.
Saat merekam video di depan Ka'bah atau Masjid Nabawi, sangat mungkin ada jamaah lain yang ikut masuk ke dalam kamera.
Kalau memungkinkan, hindari menjadikan jamaah lain sebagai objek utama tanpa izin. Terutama jika wajah mereka terlihat jelas atau video tersebut akan dipublikasikan ke media sosial.
Lebih baik mengatur sudut pengambilan gambar agar fokus berada pada diri sendiri dan suasana umum, bukan mengekspos orang lain.
Jangan Memaksakan Diri Demi Mendapatkan Foto Viral
Media sosial terkadang membuat perjalanan terasa seperti perlombaan.
Begitu melihat orang lain mendapatkan foto yang bagus di depan Ka'bah, kita ikut ingin mendapatkan foto serupa. Melihat seseorang membuat video yang ramai ditonton, kita pun ingin membuat konten yang tidak kalah menarik.
Padahal, pengalaman umrah tidak harus menjadi konten yang viral agar menjadi kenangan yang berarti.
Kamu boleh menyimpan foto sederhana. Kamu boleh hanya mengirim satu foto kepada keluarga. Bahkan kamu juga boleh tidak mengunggah apa pun dan memilih menikmati momen tersebut secara pribadi.
Nilai sebuah pengalaman di Tanah Suci tidak ditentukan oleh jumlah views, likes, atau komentar.
Bagaimana Kalau Tujuannya untuk Memberi Kabar kepada Keluarga?
Kalau update status dilakukan untuk memberi tahu keluarga dan teman bahwa kita sudah sampai dengan selamat, tentu konteksnya berbeda dengan membuat konten secara berlebihan.
Misalnya, cukup mengunggah foto dengan caption sederhana seperti “Alhamdulillah sudah sampai di Tanah Suci” atau mengirim foto kepada orang tua dan keluarga.
Justru komunikasi seperti ini bisa membuat keluarga di rumah merasa tenang karena mengetahui kondisi kita.
Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kebutuhan memberi kabar berubah menjadi keharusan untuk terus-menerus mendokumentasikan setiap aktivitas selama umrah.
Bagaimana dengan Niat Saat Membagikan Foto Umrah?
Niat adalah sesuatu yang berada dalam diri masing-masing orang. Karena itu, kita tidak bisa dengan mudah menilai niat seseorang hanya berdasarkan sebuah foto atau Stories.
Seseorang mungkin mengunggah foto karena ingin berbagi kabar. Orang lain mungkin ingin menyimpan kenangan. Ada juga yang ingin menginspirasi keluarga atau teman agar suatu saat bisa berkunjung ke Tanah Suci.
Yang paling penting adalah setiap orang bisa mengevaluasi niatnya sendiri.
Sebelum menekan tombol Post atau Share, tidak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri: apakah unggahan ini memang perlu dibagikan?
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu kita lebih bijak menggunakan media sosial selama berada di Tanah Suci.
Tips Aman dan Beradab Membuat Stories Saat Umrah
Media Sosial Boleh, Adab Jangan Sampai Hilang
Umrah di era sekarang memang tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari teknologi. Smartphone bisa digunakan untuk komunikasi, dokumentasi, navigasi, mencari informasi, hingga memberi kabar kepada keluarga.
Jadi, membawa ponsel dan sesekali update status bukan berarti seseorang otomatis tidak fokus beribadah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika penggunaan smartphone mulai mengganggu diri sendiri, jamaah lain, atau aturan yang berlaku di tempat tersebut.
Karena itu, tidak perlu merasa bahwa setiap foto di Tanah Suci harus dipandang negatif. Sebaliknya, kita juga tidak perlu merasa bahwa setiap momen harus diabadikan.
Kalau Mau Upload, Ingat Satu Hal Ini
Sebelum mengunggah foto atau video dari depan Ka'bah maupun Raudhah, cukup ingat prinsip sederhana: ambil secukupnya, bagikan seperlunya, dan jangan mengorbankan ibadah demi konten.
Kalau ada kesempatan untuk berfoto tanpa mengganggu jamaah lain, silakan abadikan sebagai kenangan. Kalau situasinya sedang padat atau petugas meminta jamaah segera bergerak, simpan dulu ponselnya.
Karena pada akhirnya, kamu datang ke Tanah Suci bukan hanya untuk membawa pulang foto.
Kamu datang untuk menjalankan ibadah dan membawa pulang pengalaman yang jauh lebih berharga daripada sekadar sebuah Stories.
Kesimpulan
Update status atau upload Stories di depan Ka'bah maupun Raudhah tidak perlu langsung dianggap sebagai sesuatu yang salah hanya karena menggunakan media sosial.
Yang perlu diperhatikan adalah niat pribadi, adab, kondisi sekitar, privasi jamaah lain, serta aturan yang berlaku di lokasi.
Kalau ingin mengabadikan momen, lakukan dengan sederhana. Jangan mengganggu jamaah lain, jangan melanggar arahan petugas, dan jangan sampai aktivitas membuat konten mengambil porsi lebih besar daripada ibadah.
Foto boleh jadi kenangan. Stories boleh menjadi kabar. Tetapi ibadah tetap menjadi tujuan utama.

Komentar
Posting Komentar